Meningitis pada Anak

Diperbarui 05/10/2022

Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN Cipto Mangunkusumo

UKK Neurologi IDAI

Tanggal 5 Oktober dieperingati sebagai Hari Meningitis Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang meningitis, suatu penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan dapat menyebabkan disabilitas pada mereka yang pernah mengalaminya. Pada bayi dan anak, meningitis dapat menyebabkan kematian pada sekitar 30% penderitanya, dan disabilitas pada sekitar 50%. Namun demikian, meningitis dapat disembuhkan bila dikenali secara dini, dan sebagian kasus meningitis dapat dicegah dengan imunisasi. Yuk, kita pelajari lebih lanjut tentang meningitis, agar penyakit ini dapat dicegah, serta penderitanya dapat dikenali secara dini dan mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Apa itu meningitis?

Meningitis adalah istilah yang digunakan untuk radang pada selaput otak, yaitu lapisan tipis yang melindungi otak dan saraf tulang belakang. Radang tersebut dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, maupun virus. Meningitis dapat menyerang siapa saja, namun beberapa kelompok tergolong lebih rentan, antara lain bayi dan anak kecil, lansia, dan mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Berapa banyak anak yang terkena meningitis?

Angka kejadian meningitis di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data dari delapan rumah sakit pendidikan di Indonesia, meningitis menempati urutan kesembilan dari sepuluh penyakit tersering yang dirawat di rumah sakit. Pada anak, sebagian besar meningitis disebabkan oleh kuman atau bakteri, termasuk kuman tuberkulosis (TB) dan kuman jenis lainnya.

Seberapa berbahayakah meningitis itu?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO), dengan penanganan yang baik sekalipun, angka kematian pada meningitis berkisar 5-10%, sedangkan apabila tidak ditangani, angka kematiannya dapat mencapai 50%. Pada mereka yang berhasil sembuh dari meningitis, hingga 50% dapat mengalami gangguan atau disabilitas jangka panjang akibat kerusakan otak yang ditimbulkan oleh meningitis. Disabilitas yang dapat terjadi pada anak dapat berupa keterlambatan perkembangan, gangguan pendengaran, kejang atau epilepsi, gangguan gerak atau motorik, gangguan kecerdasan, gangguan belajar, gangguan memori, gangguan perilaku, dan lain-lain.

Siapa saja yang berisiko terkena meningitis?

Pada dasarnya, meningitis dapat terjadi pada siapapun. Namun demikian, anak akan lebih berisiko untuk terkena meningitis apabila tidak mendapat imunisasi yang lengkap, terutama imunisasi HiB (Haemophilus influenzae tipe B) dan pneumokokus. Anak dengan infeksi TB yang tidak diobati, infeksi atau luka dalam di sekitar kepala dan wajah – termasuk infeksi telinga, sinus, dan gigi, trauma tembus kepala, serta anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk akibat infeksi HIV, juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terjangkit meningitis.

Bagaimana tanda dan gejala meningitis pada anak?

Bakteri maupun virus penyebab meningitis seringkali masuk ke dalam tubuh melalui saluran napas. Oleh karena itu, tanda awal meningitis seringkali menyerupai flu, dengan gejala demam, batuk atau nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, dan muntah. Anak kemudian dapat mengalami penurunan kesadaran, misalnya tampak lebih sering mengantuk dan banyak tidur, rewel terus menerus, tampak kebingungan, atau bicara meracau. Seringkali anak menjadi sensitif terhadap cahaya dan merasa lebih nyaman di lingkungan yang gelap. Pada tahapan penyakit yang lebih lanjut dapat muncul kejang maupun kelumpuhan pada anggota tubuh.

Secara umum, orangtua sebaiknya mewaspadai kemungkinan meningitis apabila pada anak terdapat demam disertai penurunan kesadaran atau rewel terus menerus, kejang, atau kelemahan anggota tubuh.

Tanda dan gejala meningitis pada anak berusia 2 tahun atau lebih:

  • Demam
  • Lemas atau lelah
  • Sakit kepala, dapat disertai mual atau muntah
  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Rewel atau mudah marah
  • Leher kaku (kaku kuduk)
  • Ruam pada kulit
  • Lebam-lebam pada kulit tanpa penyebab yang jelas
  • Penurunan nafsu makan
  • Kebingungan atau bicara meracau
  • Kejang
  • Kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak

Tanda dan gejala meningitis pada bayi:

  • Demam tinggi
  • Menangis atau rewel terus-menerus, sulit ditenangkan
  • Tampak kurang aktif
  • Malas makan atau menyusu
  • Mengantuk atau tidur terus-menerus
  • Sulit dibangunkan
  • Ubun-ubun besar membonjol
  • Badan kaku
  • Kejang

Apabila terdapat tanda dan gejala yang tercantum dalam boks, sebaiknya anak dibawa ke dokter. Belum tentu anak mengalami meningitis, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Gambar. Bayi dengan ubun-ubun besar yang membonjol.
Sumber: Aliyu I. Transient bulging of the anterior fontanel. Arch Med Health Sci [serial online] 2018 [cited 2022 Sep 27];6:265-6. Diunduh dari: https://www.amhsjournal.org/text.asp?2018/6/2/265/248654

Bagaimana dokter mendiagnosis meningitis?

Dokter akan menanyakan mengenai gejala dan riwayat penyakit anak, riwayat kesehatan sebelumnya, serta riwayat penyakit di lingkungan dan keluarga. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisis dan pemeriksaan neurologis. Untuk menegakkan diagnosis meningitis, umumnya dokter perlu melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah serta pengambilan cairan dari daerah punggung yang disebut pungsi lumbal. Pada keadaan tertentu, mungkin dokter juga akan melakukan pemeriksaan CT scan atau MRI kepala. Bergantung pada riwayat penyakit dan temuan pada pemeriksaan fisis dan neurologis, mungkin saja diperlukan pemeriksaan lain, misalnya uji tuberkulin atau uji Mantoux, foto toraks, atau pemeriksaan lainnya yang dipandang perlu. Apabila anak mengalami kejang, mungkin juga diperlukan pemeriksaan rekam otak atau elektroensefalografi (EEG).

Apa itu pungsi lumbal? Apakah harus dilakukan untuk mendiagnosis meningitis?

Pungsi lumbal adalah suatu prosedur pengambilan cairan serebrospinal melalui punggung. Pengambilan cairan dilakukan menggunakan jarum yang sangat halus, lebih halus daripada jarum imunisasi. Hanya sejumlah sangat kecil cairan yang diambil, umumnya tidak mencapai satu sendok makan. Cairan tersebut akan dianalisis di laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat tanda-tanda meningitis dan apakah terdapat kuman dalam cairan tersebut. Ini adalah satu-satunya cara untuk mendiagnosis meningitis secara pasti. CT scan atau MRI dapat memperkuat kecurigaan ke arah meningitis serta mendeteksi beberapa komplikasi meningitis, tetapi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pasti.

              Pungsi lumbal merupakan prosedur yang relatif aman. Efek sampingnya yang tersering adalah sakit kepala sesudah tindakan, tetapi hal tersebut dapat dicegah dengan menjaga anak berbaring terlentang selama 6 jam sesudah tindakan. Hanya pada keadaan tertentu, misalnya jika ada gangguan pembekuan darah, pungsi lumbal tidak dapat dilakukan.

Bagaimana pengobatan meningitis?

Pengobatan utama meningitis adalah dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan penyebabnya. Pada meningitis bakteri, antibiotik intravena (diberikan melalui suntikan) diberikan selama 14-21 hari; selama itu umumnya pasien dirawat. Pada meningitis akibat kuman TB, obat-obatan anti-TB diberikan selama satu tahun; pada sebagian besar kasus obat-obatan tersebut merupakan obat yang diminum dan pasien dirawat hanya sampai keadaannya stabil. Selain itu, dokter juga akan memberikan pengobatan yang bersifat suportif, misalnya cairan infus, obat penurun panas, dan obat-obatan untuk menurunkan tekanan di dalam kepala. Apabila pasien mengalami penurunan kesadaran dan tidak dapat makan dan minum melalui mulut, mungkin juga diperlukan pemasangan selang lambung (pipa nasogastrik atau orogastrik) untuk pemberian nutrisi.

Setelah sembuh dari meningitis, hal apa yang perlu diperhatikan?

Setelah infeksi selaput otak teratasi, anak masih perlu pemantauan dokter untuk gejala sisa jangka panjang yang dapat terjadi. Gejala sisa tersebut dapat berupa keterlambatan perkembangan, gangguan pendengaran, kejang atau epilepsi, gangguan gerak atau motorik, gangguan kecerdasan, gangguan belajar, gangguan memori, gangguan perilaku, dan lain-lain. Dokter akan melakukan pemantauan dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendeteksi gejala-gejala sisa tersebut. Anak mungkin juga memerlukan terapi untuk mengoptimalkan Kembali perkembangannya.

Bagaimana mencegah meningitis pada anak?

Beberapa infeksi penyebab meningitis dapat dicegah dengan vaksinasi atau imunisasi. Imunisasi yang dapat mencegah meningitis pada anak yang tersedia saat ini antara lain:

  1. Vaksin Haemophilus influenzae tipe B (HiB)

Vaksin HiB direkomendasikan untuk diberikan saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan, dengan imunisasi ulangan pada usia 18 bulan. Vaksin ini sudah termasuk dalam program pemerintah; umumnya diberikan bersama dengan vaksin difteri-pertusis-tetanus (DPT) dan hepatitis B. Vaksin ini mencegah infeksi oleh kuman HiB, yang merupakan salah satu penyebab pneumonia dan meningitis tersering pada bayi dan anak kecil.

  • Vaksin BCG

Vaksin BCT berfungsi mengurangi risiko infeksi TB, terutama infeksi berat. Vaksin ini sebaiknya diberikan segera setelah lahir atau sebelum bayi berumur 1 bulan.

  • Vaksin pneumokokus

Vaksin pneumokokus dapat mencegah infeksi oleh kuman streptokokus invasif, yang juga dikenal sebagai pneumokokus. Kuman tersebut merupakan salah satu penyebab tersering pneumonia, infeksi telinga tengah, dan meningitis pada bayi dan anak kecil.

Vaksin ini dianjurkan untuk diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan ulangan pada usia 12-15 bulan.

  • Vaksin meningokokus

Vaksin meningokokus mencegah infeksi oleh kuman Neisseria meningitidis yang juga dikenal sebagai meningokokus. Di Indonesia, vaksin meningokokus tidak diberikan secara rutin kepada semua bayi dan anak; hanya dianjurkan pada kelompok risiko tinggi tertentu, serta bila anak akan bepergian ke wilayah endemis, misalnya Timur Tengah.

  • Vaksin MMR

Di antara berbagai infeksi virus yang dapat menyebabkan meningitis, namun infeksi virus mumps (gondongan), measles (campak), dan rubella merupakan beberapa di antaranya yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Selain itu, pencegahan meningitis dapat diupayakan dengan mengurangi kemungkinan penyebaran infeksi dan menerapkan protokol kesehatan, sebagai berikut:

  • Berikan nutrisi dengan gizi seimbang.
  • Pastikan anak cukup beristirahat.
  • Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit; bila sedang sakit sebaiknya anak tidak masuk sekolah.
  • Menggunakan masker bila berkontak dengan orang yang sedang sakit.
  • Sering mencuci tangan dengan air dan sabun. Ajari pula anak untuk mencuci tangan dengan benar.
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisusaat batuk dan bersin atau dengan siku bagian dalam jika tisu tidak tersedia.
  • Hindari berbagi makanan, minuman, alat makan, dan sikat gigi.
  • Menjaga higiene dan sanitasi lingkungan, ventilasi, serta pencahayaan yang cukup di dalam rumah.
Daftar Pustaka:
1. Anniazi ML, Nur RT, Widjaja SL. (2020). Diagnostic Value of Tumor Necrosis Factor – Αlpha in Cerebrospinal Fluid Differentiates Bacterial From Viral Meningitis in Children.
Meningitis in Children. (2021). Retrieved 5 April 2022,
Lihat Sumber
Meningitis (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 5 April 2022,, from https://kidshealth.org/en/parents/meningitis.html
Lihat Sumber
Griffiths, M., McGill, F., & Solomon, T. (2018). Management of Acute Meningitis. Clin med. 18 (2), pp.164-160
Bronze, S. Medscape (2019). Meningitis.
Bueno, Susana Chavez & McCracken, George H. 2005. Bacterial Meningitis in Children. Pediatr Clin. pp.795-810
Center for Disease Control and Prevention.(2021). Bacterial Meningitis
Lihat Sumber
Center for Disease Control and Prevention.(2022). Meningitis
Lihat Sumber
Center for Disease Control and Prevention. (2021). General Best Practice Guidance for Immunization
Lihat Sumber
Center for Disease Control and Prevention. (2021). Meningococcal Vaccination: What Everyone Should Know
Lihat Sumber
Castro, JB. Everyday Health (2018). How to Treat and Prevent the Different Types of Meningitis?
Mayo Clinic (2020). Diseases and Conditions. Meningitis.
Roth, E. Healthline (2016). Bacterial Meningitis: Causes and How It’s Spread.
Philips.Bob. (2006). Toward evidence based medicine for paediatricians. Arch Dis Child; 91: 789-794
Ditulis Oleh:
Amanda Soebadi, dr., SpA(K), M.Med (ClinNeurophysiol)
Asri Rahmania, dr.
Bagikan Artikel
Ditulis Oleh:
Amanda Soebadi, dr., SpA(K), M.Med (ClinNeurophysiol)
Asri Rahmania, dr.
Bagikan Artikel

Dapatkan Informasi Terbaru

Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru seputar
Anak Indonesia Sehat!

0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Anak Indonesia Sehat
Situs ini dibuat untuk para orang tua sebagai wadah pendukung untuk terciptanya pertumbuhan dan perkembangan Anak Indonesia Sehat.
magnifiercrosschevron-down