Mengenal Leukemia pada Anak

Diperbarui 06/11/2021

Leukemia, atau biasa dikenal sebagai kanker darah, merupakan salah satu jenis keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang dan dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Tahukah Ayah dan Bunda jika leukemia pada anak merupakan suatu jenis penyakit keganasan tersering? Angka kejadian leukemia di Indonesia adalah ¾ kasus dari seluruh kasus keganasan pada anak.

Leukemia adalah kanker sel darah putih atau leukosit. Kanker ini menyerang sumsum tulang karena disanalah leukosit diproduksi. Akibat kanker ini, maka sumsum tulang didominasi oleh sel-sel kanker tersebut, akibatnya fungsi sumsum tulang terganggu. Sumsum tulang terletak di rongga tulang yang berfungsi sebagai tempat produksi komponen-komponen darah, seperti sel darah merah, trombosit dan sel darah putih. Penyakit leukemia menyebabkan fungsi sumsum tulang terganggu, sehingga seluruh kegiatan produksi darah (hematopoesis), yaitu : pembetukan sel darah merah (eritropoesis), pembentukan sel limfosit (limfopoesis), pembentukan trombosit (trombopoesis) dan granulopoesis mengalami gangguan. Anak yang menderita sakit ini akan mengalami anemia, mudah mengalami perdarahan dan mudah terkena infeksi.

Akibat adanya gangguan sistem pembentukan darah, maka dapat muncul bermacam – macam gejala, seperti :

1. Pucat (anemia)

Pucat pada anak disebabkan oleh kurangnya sel darah merah. Gejala ini dapat diwaspadai oleh orangtua dengan melihat apakah bibir anak pucat atau tidak.

2. Perdarahan

Perdarahan pada anak dapat berupa lebam di kulit, mimisan ataupun berupa bercak merah sebagai tanda adanya perdarahan. Perdarahan ini disebabkan oleh trombositopenia atau trombosit kurang dari jumlah normal (<150.000/µL). Semakin rendah trombosit msemakin tinggi risiko perdarahan.

3. Mudah terinfeksi

Sel leukosit yang diproduksi sumsum tulang bukanlah leukosit yang normal, sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal ini menyebabkan anak mudah terinfeksi kuman maupun virus.

4. Demam

Sel kanker dapat menyebabkan demam karena ada pelepasan zat-zat peradangan (sitokin inflamasi) sehingga menyebabkan demam. Selain itu, demam juga sering disebabkan karena adanya infeksi akibat kekebalan yang menurun.

5. Nyeri tulang/sendi

Nyeri yang dirasakan pada anak merupakan manifestasi dari adanya infiltrasi (penyebaran) sel-sel kanker yang masuk kedalam permukaan tulang maupun sendi. Selain nyeri, leukemia pada anak juga menyebabkan bengkak di daerah persendian.

6. Pembesaran organ (organomegali)

Pembesaran organ atau organomegali disebabkan oleh sel kanker yang menyebar ke hati, limfa, kelenjar getah bening ataupun organ lain. Pembesaran ini sering ditemukan secara tidak sengaja ketika dokter sedang melakukan pemeriksaan fisik. 

7. Kloroma

Kloroma adalah salah satu tanda khas dari leukemia yang berupa bercak kehitaman pada kulit. Gejala ini merupakan salah satu tanda adanya infiltasi sel kanker ke dermis, subdermis atau epidermis pada kulit.

8. Hiperleukositosis

Pada keadaan tertentu anak dapat mengalami kenaikan jumlah sel leukosit yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 100.000/µL. Hiperleukositosis ini dapat menyebabkan komplikasi atau penyakit penyerta berupa kejang, sesak, perdarahan pada paru, otak maupun ginjal. Anak – anak yang memiliki gejala di atas, perlu segera diperiksa oleh dokter spesialis anak untuk pemeriksaan dan konfirmasi diagnosis lebih lanjut.

Pada anak, adanya leukemia sering kali terdeteksi secara tidak sengaja, yaitu baru diketahui ketika anaknya berobat untuk keluhan lain seperti demam, atau batuk dan pilek. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ternyata ditemukan gejala lain, seperti anak tampak pucat, atau adanya pembesaran organ yang tidak diketahui oleh orangtua sebelumnya. Hal ini membuat kebanyakan pasien leukemia datang terlambat untuk berobat.

Apa yang harus dilakukan oleh orangtua di rumah?

  1. Selalu memperhatikan kondisi anak, apakar terdapat gejala-gejala seperti diatas atau tidak.
  2. Apabila ada keluhan tersebut maka segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter umum atau dokter anak yang memeriksa akan melakukan pemeriksaan sesuai dengan kompetensi mereka. Salah satu yang akan dilakukan adalah pemeriksaan darah (darah tepi lengkap). Pemeriksaan tersebut merupakan salah satu skrining awal adanya kelainan pada darah. Tentunya dokter yang memeriksa yang akan menyampaikan hasilnya kepada orangtua. 

Faktor risiko pada anak

Berbeda dengan dewasa yang lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup, pada anak faktor genetik menjadi faktor menderita leukemia. Berikut ini beberapa faktor yang meningkatkan risiko seorang anak menderita penyakit leukemia:

  1. Faktor genetik.

Adanya kelainan genetik yang diketahui merupakan salah satu keadaan yang ditemukan pada leukemia. Hal tersebut diturunkan oleh orangtua, baik secara langsung maupun tidak. Pada anak dengan riwayat penyakit kanker pada keluarga memiliki risiko keganasan apapun jenisnya, termasuk leukemia.

  1. Faktor lingkungan.

Faktor lingkungan diduga berperan dalam terjadinya kanker, seperti radiasi, paparan zat kimia, dan polusi udara, dsb.

Jenis–jenis  leukemia

Secara garis besar leukemia dibagi menjadi leukemia akut dan kronis. Leukemia juga dapat digolongkan berdasrakan jenis sel leukosit yang terlibat, yaitu leukemia limfoblastik dan mieloblastik. Pada anak leukemia yang paling banyak ditemukan adalah jenis leukemia limfoblastik akut (LLA).

Selain leukemia akut, terdapat juga jenis leukemia kronik. Leukemia kronik dibagi menjadi dua, yaitu leukemia mieloblastik kronik (LMK) dan leukemia limfositik kronik (LLK). Pada anak leukemia mieloblastik kronik (LMK) yang banyak ditemukan, sedangkan jenis leukemia limfositik kronik (LLK) pada anak jarang sekali.

Prognosis leukemia pada Anak

Keberhasilan pengobatan leukemia tergantung dari jenis leukemia dan stratifikasi risikonya. Penderita leukemia yang memiliki risiko tinggi, semakin kurang baik pula prognosisnya. Di Indonesia dilaporkan angka sintasan atau tingkat kelangsungan hidup anak yang menderita leukemia limfositik akut (LLA) sebesar 70 – 80 %. Namun, harus diingat bahwa selalu ada risiko kambuh, yaitu kembalinya tanda dan gejala penyakit setelah mengalami remisi (sembuh).

Diagnosis dini melalui pemeriksaan oleh dokter dan pengobatan yang tepat dapat memberikan prognosis yang baik. Ingat, selalu konsultasikan keluhan anak Anda ke dokter di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Ditulis Oleh:
Dr. Bagus Budi Santoso
Ditinjau Oleh:
Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K)
Bagikan Artikel
Ditulis Oleh:
Dr. Bagus Budi Santoso
Ditinjau Oleh:
Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K)
Bagikan Artikel

Dapatkan Informasi Terbaru

Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru seputar
Anak Indonesia Sehat!

Berlangganan
Notifikasi
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
Anak Indonesia Sehat
Situs ini dibuat untuk para orang tua sebagai wadah pendukung untuk terciptanya pertumbuhan dan perkembangan Anak Indonesia Sehat.
magnifiercrosschevron-down